Monday, April 11, 2011

Inkubator Bisnis

‎"Keberlimpahan IPTEKS yang berkembang di pusat-pusat studi (universitas) belum diimbangi dengan implementasi dan pengembangan serta penerapan ekonomis terhadap kehidupan masyarakat oleh karena itu baiknya di lingkungan University perlu adanya cluster-cluster inkubasi IPTEKS guna membidani para usahawan-usahawan berbasis IPTEKS Garda depan"

~Arip Nurahman~


Inkubator Bisnis Rangers bermaksud:

 * Melahirkan pebisnis tangguh berbasis sains dan teknologi

 * Mendorong hasil-hasil riset menjadi produk-produk bermanfaat

 * Membantu pencarian sumber pendanaan usaha

Inkubator bisnis adalah perusahaan / lembaga yang memberikan suatu program yang didesain untuk membina dan mempercepat keberhasilan pengembangan bisnis melalui rangkaian program permodalan yang diikuti oleh dukungan kemitraan / pembinaan elemen bisnis lainnya dengan tujuan menjadikan usaha tersebut menjadi perusahaan yang profitable, memiliki pengelolaan organisasi dan keuangan yang benar, serta menjadi perusahaan yang sustainable, hingga akhirnya memiliki dampak positif bagi masyarakat. 

Program inkubasi yang diberikan pada umumnya adalah bagi start-up company atau suatu perusahaan yang masih berada di tahap awal (early stage), dimana di Indonesia umumnya adalah usaha baru ataupun telah berjalan kurang dari 2 tahun. Suatu studi penelitian di Amerika, dimana konsep ini lahir, menunjukan bahwa 87% dari usaha start-up yang melalui program inkubasi / pembinaan dapat bertahan dan menjalankan bisnis mereka dengan baik. 

 Pada umumnya jasa / bantuan yang diberikan oleh inkubator bisnis adalah: 

▪ Akses dan bantuan permodalan 

▪ Membuka jaringan yang terkait dan dapat membantu perkembangan usaha tersebut 

▪ Pengembangan strategi pemasaran (marketing) 

▪ Membantu dalam manajemen akuntansi / keuangan 

▪ Mentoring dan pelatihan bisnis

▪ Manajemen pengelolaan perusahaan dan budaya perusahaan 

▪ Memberi pengenalan dan penekanan atas etika bisnis 

▪ Memberikan informasi mengenai industri bisnis terkait secara umum 

▪ Membantu hal-hal terkait dengan regulasi 

Pada dasarnya yang dilakukan oleh inubator bisnis adalah suatu bagian dari progran kemitraan untuk mengembangkan bisnis bersama-sama, dengan tujuan menjadikan usaha tersebut menjadi suatu bisnis yang nyata dan berkembang sesuai dengan visi dari perusahaan tersebut.

Friday, March 11, 2011

TECHNOPRENEURSHIP: Usaha Pengembangan Software

Software Business is the commercial activity of the software industry, aimed at producing, buying and selling software products or software services. The business of software differs from other businesses, in that its main good is intangible and fixed costs of production are high while variable costs of production are close to zero.

References

  1. ^ a b c Karl M. Popp and Ralf Meyer (2010). Profit from Software Ecosystems: Business Models, Ecosystems and Partnerships in the Software Industry. Norderstedt, Germany: BOD. ISBN 3-8391-6983-6.
  2. ^ D.G. Messerschmitt and C. Szyperski, Software Ecosystem: Understanding an Indispensable Technology and Industry, MIT Press, 2003
  3. ^ Cusumano M. (2003) Finding Your balance in the Products and Service Debate, Communications of the ACM. Vol. 46:3
  4. ^ Nambisan S. (2001) Why Service Business are not Product Businesses, MIT Sloan Management Review. Vol. 42:4
  5. ^ Cusumano, Michael A., The business of software, Chapter 2., New York : Free Press, 2004
  6. ^ Bitran G. & Logo, M. 1993, A Framework for Analyzing Service Operations. European Management Journal 11 (3):271-282

Thursday, February 17, 2011

Sebuah Perjalanan Menjadi Seorang: TECHNOPRENEUR




Wirausaha IPTEK menggunakan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi yang kompeten dan memiliki jiwa kewirausahaan. memang menjanjikan, Akan tetapi tidak setiap lulusan perguruan tinggi memiliki jiwa kewirausahaan seperti yang diinginkan oleh lapangan kerja tersebut. Kenyataan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil lulusan perguruan tinggi yang memiliki jiwa kewirausahaan. 

Di sisi lain, krisis ekonomi menyebabkan jumlah lapangan kerja tidak tumbuh, dan bahkan berkurang karena bangkrut. Dalam kondisi seperti ini, maka lulusan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya mampu berperan sebagai pencari kerja tetapi juga harus mampu berperan sebagai pencipta kerja. Keduanya memerlukan jiwa kewirausahaan.

Oleh karena itu, agar supaya perguruan tinggi mampu memenuhi tuntutan tersebut, berbagai inovasi diperlukan diantaranya adalah inovasi pembelajaran dalam membangun generasi technopreneurship di era informasi sekarang ini. 

Ada suatu pendapat bahwa, saat ini sebagian besar lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih lemah jiwa kewirausahaannya. Sedangkan sebagian kecil yang telah memiliki jiwa kewirausahaan, umumnya karena berasal dari keluarga pengusaha atau dagang. 

Dalam kenyataan menunjukkan bahwa kewirausahaan adalah merupakan jiwa yang bisa dipelajari dan diajarkan. Seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan umumnya memiliki potensi menjadi pengusaha tetapi bukan jaminan menjadi pengusaha, dan pengusaha umumnya memiliki jiwa kewirausahaan.

Proses pembelajaran yang merupakan inkubator bisnis berbasis teknologi ini dirancang sebagai usaha untuk mensinergikan teori (20%) dan Praktek (80%) dari berbagai kompetensi bidang ilmu yang diperoleh dalam bidang teknologi & industri. Inkubator bisnis ini dijadikan sebagai pusat kegiatan pembelajaran dengan atmosfir bisnis yang kondusif serta didukung oleh fasilitas laboratorium yang memadai.

Tujuan implementasi inovasi dari kegiatan inkubator bisnis berbasis teknologi ini adalah menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa sebagai peserta didik. Sedangkan manfaat yang diperoleh bagi institusi adalah tercapainya misi institusi dalam membangun generasi technopreneurship dan meningkatnya relevansi antara dunia pendidikan dengan dunia industri. Sedangkan manfaat bagi mitra kerja adalah terjalinnya kerja sama bisnis dan edukasi.

Kerjasama ini dikembangkan dalam bentuk bisnis riil produk sejenis yang memiliki potensi ekonomi pasar yang cukup tinggi.Proses globalisasi yang sedang terjadi saat ini, menuntut perubahan perekonomian Indonesia dari resourced based ke knowledge based. 

Resource based yang mengandalkan kekayaan dan keragaman sumber daya alam umumnya menghasilkan komoditi dasar dengan nilai tambah yang kecil. Salah satu kunci penciptaan knowledge based economy adalah adanya technology entrepreneurs atau disingkat techno-preneur yang merintis bisnis baru dengan mengandalkan pada inovasi. Hightech business merupakan contoh klasik bisnis yang dirintis oleh technopreneurs.

Bisnis teknologi dunia saat ini didominasi oleh sektor teknologi informasi, bioteknologi dan material baru serta berbagai pengembangan usaha yang berbasiskan inovasi teknologi. Bisnis teknologi dikembangkan dengan adanya sinergi antara teknopreneur sebagai pengagas bisnis, Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian sebagai pusat inovasi teknologi baru, serta perusahaan modal ventura yang memiliki kompetensi dalam pendanaan.Jumlah usaha kecil menengah berbasis teknologi (UKMT) di Indonesia berkembang dengan pesat.

Kecenderungan peningkatan ini lebih didorong oleh terbatasnya peluang kerja di industri-industri besar karena pengaruh krisis ekonomi dan mulai munculnya technopreneurship di kalangan lulusan pendidikan tinggi teknik.

Dalam menghadapi era globalisasi, persaingan akan semakin ketat, sehingga sangat dibutuhkan kebijakan-kebijakan dan aktivitas-aktivitas secara langsung yang dapat meningkatkan daya saing UKMT di kemudian hari. Kesulitan dan hambatan pada UKMT di Indonesia dalam mengembangkan usahanya adalah lemahnya jalur pemasaran, dukungan teknologi dan terbatasnya permodalan.

Terlebih lagi, bagi pengusaha pemula, masalah ini akan terlihat lebih besar dan menjadi kendala cukup besar dalam mengembangkan usahanya.Sampai saat ini belum banyak institusi pemerintah maupun swasta yang dapat memberikan dukungan secara langsung untuk pengembangan UKMT khususnya bagi pengusaha pemula. Sehingga sangat dibutuhkan suatu wadah yang dapat memberikan dukungan langsung berupa fasilitas-fasilitas yang dapat membantu UKMT khususnya membantu pengusaha pemula dalam melaksanakan dan mengembangkan usahanya.

Dalam rangka turut serta membantu dan mendukung secara langsung kegiatan UKMT khususnya kegiatan pengusaha pemula, maka dipandang sangat perlu untuk dapat membangun suatu wadah yang memiliki fasilitas yang dapat mendukung secara langsung kegiatan operasional, promosi, pemasaran, konsultasi teknologi produksi, investasi dan permodalan. Dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut, diharapkan UKMT khususnya pengusaha pemula di Indonesia dapat mengembangkan usahanya lebih cepat dan terarah.

Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan jiwa bagi anak bangsa, semoga munculnya generasi technopreneurship dapat memberikan solusi atas permasalahan jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan juga Bangsa Indonesia.

Sumber:

Tata Sutabri S.Kom, M. M.
 
Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA,
Pemerhati Dunia Pendidikan TI.

Alamat: Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk,
Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969,
e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id

Thursday, January 6, 2011

TECHNOPRENEURSHIP: Dari Ide Menjadi Kenyataan


By Manuel Cereijo


High-tech and entrepreneurial skills are driving our economy back to prosperity. Technopreneursip-merging technology prowess and entrepreneurial skills- is the real source of power in toda's knowledge-based economy. 

A technopreneur distinguishes logic from tradition, tradition from prejudice, prejudice from common sense and common sense from nonsense while integrating a variety of ideas from diverse groups and disciplines.

Technopreneurship is not a product but a process of synthesis in engineering the future of a person, an organization, a nation and the world. Strategic directions or decision-making processes are becoming more demanding and complex. 

This requires universities, and in site professional development programs and training to produce strategic thinkers who will have skills to succeed in a rapidly changing global environment. 

Traditional university programs, however, lack the teaching methods to turn today's students into creative, innovative, visionary global leaders who understand the importance of technopreneurship. 

Recent technological advances and global competitiveness have changed and broadened the nature of liberal arts to embrace humans and machines. 

The answer is not creating new liberal arts or soft-skills courses, but integrating them into the general technical curriculum. These changes take time. Also, what about present and past universities' graduates? The solution is to increase in site training and development at all levels of a corporation.

These programs should focus on what workers and professionals should be able to do. These include functioning on multidisciplinary teams, communicating effectively, acquiring updated knowledge of technological developments, and understanding the basic technical concepts and there new applications and improvements.

Creativity is breaking the conventional mental blocks and playing with imagination and possibilities, leading to new and meaningful connections and outcomes while interacting with ideas, people and the environment. Technopreneurship is the only source of long-run sustainable competitive advantage. 

In an era of man-made brainpower industries, individual, corporate, and national economic success will all require both new and more extensive skills sets than have been required in the past . By themselves skills don't guarantee success. 

They have to be put together in successful organizations. But without skills and technopreurship there are no successful organizations.

Source: Manuel Cereijo. July, 2002
Este y otros excelentes artículos del mismo AUTOR aparecen en la REVISTA GUARACABUYA
con dirección electrónica de:
http://www.amigospais-guaracabuya.org

Sunday, December 19, 2010

Analisa Data Loads Pada Bisnis Software



Gambaran Interior dalam Kantor Ranger ICT Corp


Business software or business application is any software or set of software programs that are used by business users to perform various business functions. These business applications are used to increase productivity, to measure productivity and to perform business functions accurately.
Some business applications are interactive i.e. they have a graphical user interface or user interface and user can query/modify/input data and view results instantaneously. They can also run reports instantaneously. Some business applications run in batch mode i.e. they are set up to run based on a predetermined event/time and business user does not need to initiate them or monitor them.
Some business applications are built in-house and some are bought from vendors (off the shelf software products). These Business Applications either are installed on desktops or on big servers.



Business Software
Mobile Software
Other Popular
Top Shareware
Popular Games
Desktop


The term covers a large variation of uses within the business environment, and can be categorized by using a small, medium and large matrix:
Now, technologies that have previously only existed in peer-to-peer software applications, like Kazaa and Napster, are starting to feature within business applications. JXTA is an open source platform that enables the creation of machine and language-neutral applications.